Lapisan Cerita Goa Batu Gelap

Empat cerita bertumpuk. Geser kartu ke kiri atau ke kanan untuk berpindah.

Sejarah

Gua Batu Gelap di Desa Suka Maju, Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara awalnya memiliki beberapa pintu masuk, namun tertimbun sedimentasi sehingga akses menyusut hingga 50 cm. Pada 2011, pemerintah kabupaten mulai menggarapnya sebagai objek wisata dengan membangun jalan 2 km dan mempromosikannya lewat katalog resmi. Kini gua ini dapat ditempuh 90 menit dari Samarinda atau 45 km dari Tenggarong dengan menyeberangi Sungai Mahakam.

Geologi

Gua ini merupakan bagian pegunungan karst dari Formasi Pamaluan Beds, terbentuk di zona laut dangkal (neritik) pada Miosen tengah hingga atas. Litologi batuan didominasi batu gamping dengan sisipan pasir, kuarsa, serta batu gamping klastik dan kristalin. Di dalam gua terdapat stalaktit, stalagmit berbentuk dolmen dan menhir, serta sungai bawah tanah yang melintas.

Mitos

Warga percaya bahwa lokasi gua dulunya adalah tempat pesta panen padi (Erau Benua). Seorang warga bernama Gunam menggunakan ekor ikan pari sebagai pemukul gendang, yang dipercaya mendatangkan petaka. Tuhan pun murka dan mengutuk seluruh warga menjadi batu, membentuk Gua Batu Gelap dengan formasi batu menyerupai meja, kursi, manusia duduk, serta jejak larian panjang. Nama "Separi" berasal dari ikan pari tersebut.

Informasi

Goa Batu Gelap mewajibkan setiap pengunjung untuk didampingi oleh pemandu wisata lokal. Mengenai biaya pemandu, tidak ada tarif tetap yang ditentukan. Pengunjung dipersilakan memberikan imbalan secara sukarela sesuai dengan rasa ikhlas masing-masing. Kebijakan ini diterapkan untuk mencegah tindakan vandalisme terhadap situs goa serta menjaga kelestariannya.